PROFIL DINA FAISAL DAN DITA FAISAL

Pemandangan duo anchor (pembaca berita) sibuk memberikan informasi terkini di layar kaca sudah biasa dilihat di layar teve. Tapi, bagaimana jika duo itu adalah sepasang saudara kembar? Menarik untuk disimak, tentunya.

Sepintas, wajah Laila Hajarul Aswadina Faisal dan Laila Hajarul Aswadita Faisal memang seperti pinang dibelah dua. Sama-sama cantik, sama-sama pintar dan energik. Ya, mereka memang kembar identik. Bahkan, jika tak secara saksama memerhatikan wajah dan postur tubuh keduanya, rasanya sulit membedakannya. Salah satu ciri fisik yang dapat membantu membedakan, terdapat pada tahi lalatnya saja. Jika Dina wajahnya dihiasi beberapa buah tahi lalat, maka sebaliknya, Dita tak memiliki tahi lalat.

Sejak kecil, selain suka memakai baju dan barang yang sama, keduanya juga kerap memiliki potongan rambut yang sama. “Kami harus kembaran baju, sepatu dan segala sesuatunya. Kalau enggak, kami menangis. Tak hanya itu, kami juga maunya pergi selalu bersama-sama, enggak bisa pisah. Masing-masing akan gelisah kalau dipisahkan. Tapi sejak duduk di bangku SMA kami tidak boleh satu sekolah,” ungkap Dita yang kala itu bersekolah di SMUN 6 Balikpapan, sementara Dina di SMUN 2 Balikpapan.

Perbedaan lainnya justru bisa dilihat dari gaya bicara dan gesture tubuh. Jika Dina terlihat lebih kalem, maka Dita ternyata lebih tomboi dan dominan. “Saya orangnya juga tak mau kalah. Pokoknya, kalau orang lain bisa, saya juga harus bisa dan tak boleh kalah,” tambah Dita penuh semangat. Melihat cara bicara Dita yang ceplas-ceplos, Dina yang memang tampak lebih kalem mengakui, mereka memang saling melengkapi. “Pasti ada rencana Allah agar kami saling mengisi dan melengkapi. Sekalipun kami kembar tapi buktinya masih ada juga perbedaannya.”

Hobi Baca Koran

Lahir di Balikpapan 1 Februari 1987, Dita dan Dina adalah anak keempat dan kelima pasangan H. Faisal Manap dan Hj. Maisurati. Sejak kecil, keduanya memang tak bisa diam. Sebagai saudara kembar, keduanya sudah terbiasa kompak dan bersaing. Dari kecil pula, mereka memang sudah senang tampil di depan umum.

“Sejak kecil kami ingin melakukan seperti apa yang orang lakukan. Jika melihat penyiar televisi sedang baca berita, kami berdua juga ingin jadi pembaca berita. Kami latihan baca koran dengan suara keras dan saling menilai bagaimana penampilan kami. Tak hanya itu, kami juga saling menceritakan keinginan dan cita-cita. Ternyata, keinginan kami berdua sama. Ingin maju dan jadi orang sukses,” kata Dita.

Sepakat ingin jadi pembaca berita, mereka kemudian rajin berlatih membaca koran dengan suara keras. Sementara itu, keduanya pun sibuk menjajal berbagai hobi. Mereka rajin mengikuti kegiatan di sanggar tari dan marching band . “Lomba apa saja kami ikuti karena kami senang berkompetisi. Bersaing secara sehat sejak kecil. Tapi biasanya, kalau sudah mentok karena harus ada satu juara, ujung-ujungnya saya mengalah pada Dita. Enggak apa-apa Dita yang menang. Saya ikhlas dan ikut senang, kok,” kenang Dina.

Modal Sepeda Motor

Karena ingin sukses dan hidup mandiri, Dita dan Dina kompak melanjutkan kuliah mereka di Jakarta selulus SMA. Meski sempat dapat penolakan dari pihak keluarga besar, akhirnya mereka sangat bersyukur karena ayah dan ibunya bisa memaklumi keinginan kedua putrinya.

Setibanya di Jakarta, mereka diterima kuliah di Jurusan Komunikasi Universitas Dr Moestopo Beragama. Merasa terbiasa dengan banyak aktivitas, setelah beradaptasi di kampus, keduanya sepakat mencari pengalaman dengan ikut berbagai macam kasting dan lomba. Lanjutnya, “Kami memang ingin ke Jakarta untuk mencari ilmu dan pengalaman. Hingga kami berdua sepakat mengisi kegiatan, tidak hanya dengan kuliah saja. Syukur-syukur bisa dapat kontrak iklan untuk bantu orang tua meringankan biaya kuliah.”

Dengan bekal sepeda motor yang dibawa dari Kalimantan, mereka berboncengan mencari kantor-kantor agensi maupun production house untuk ikut casting iklan dan sinetron. “Yang setir motor, ya, Dita. Soalnya dia yang tomboi dan berani nekat. Padahal, waktu itu kami berdua tak tahu jalanan di Jakarta. Ha ha ha,” jelas Dina. Dewi Fortuna pun mulai memihak pada Dina dan Dita. Mulai dari ajang covergirl , kontes Siti Nurhaliza Mencari Bakat, hingga menjadi bintang sejumlah iklan dan ikut beradu akting di FTV sudah pernah mereka lakukan. “Waktu itu, meski wajah dan nama kami berdua mulai dikenal di layar kaca, tapi Ayah, Ibu dan keluarga tak menunjukkan respons bangga. Bagi mereka, tetap saja kami berdua harus bisa menyelesaikan kuliah,” papar Dita.

Dengan penuh semangat, keduanya sukses menyelesaikan kuliahnya lebih cepat dari target yang ditentukan, dengan indeks prestasi yang cukup memuaskan pula. “Setelah lulus kuliah, kami berdua diberi kebebasan oleh orang tua untuk berkarier di mana saja.”

Sinyal Rahasia

Setelah lulus di akhir tahun 2007, keduanya kompak menjajal kemampuan di dunia broadcasting . Stasiun teve pertama yang dituju adalah TVRI Jakarta. Beruntung, keduanya diterima bekerja di sana. Mereka langsung mendapat penugasan untuk meliput arus balik dan mudik Lebaran, sambil mengasah kemampuan sebagai reporter di bidang olahraga.

Merasa cukup memiliki pengalaman selama hampir dua tahun di TVRI, Dina-Dita memutuskan merambah ke teve swasta. “Kami sempat kami ikut tes di TransTV dan TvOne. Alhamdullilah, Juli tahun 2009, kami berdua bisa diterima di kedua teve swasta itu. Tapi kami pilih TvOne karena waktu itu TvOne yang menerima kami lebih dulu,” urai Dina.

Di TvOne, keduanya diasah menjadi reporter handal. Namun sayangnya, mereka mendapat tugas terpisah. “Kami harus berpisah untuk laporan mudik dan arus baik. Waktu itu, satu di Pantura, satu di Nagreg, Garut. Rasanya sedih dan tak nyaman, tapi kami punya kebiasaan saling kirim telepati. Kalau orang lain harus saling bertelepon, kami cukup mengirimkan pesan lewat telepati, biasanya kami akan merasakan sinyal yang kami kirim. Misalnya, salah satu dari kami merasa tidak nyaman atau sedih, kami akan merasakan hal yang sama.”

Karena kemampuan unik itu, pihak TvOne lantas terinspirasi untuk menyatukan mereka berdua sebagai anchor program berita Kabar Malam . Mulanya, keduanya mengaku grogi dan aneh karena berada di program yang sama. “Rasanya aneh saja. Bahkan Dita sempat nervous . Untung saya bisa mengimbangi, sehingga kami berdua bisa saling melengkapi. Kadang tangan kami berada di balik laptop untuk saling komunikasi. Tanda jempol adalah sinyal bahwa everything is oke ,” cerita Dina sambil tertawa.

Lucunya, tak jarang narasumber di lapangan sering terkecoh dengan penampilan mereka. “Kadang ada narasumber yang merasa sudah pernah saya wawancara, padahal baru kali itu kami jumpa. Ternyata memang salah satu dari kami pernah mewawancarainya. Sering kami tertawa sendiri dalam hati kalau ada narasumber yang begini,” jelas keduanya.

Selera Sama

Kini, setelah keduanya mantap sebagai anchor , Dina dan Dita masih menyimpan segudang rencana. Salah satunya, ingin kuliah lagi dan mengambil gelar S-2, bahkan hingga S-3. Sebab, mereka memang bercita-cita suatu hari nanti menjadi dosen.

Lalu, terlintaskah rencana untuk menikah? “Kami memang tidak ingin berpacaran. Kami berteman saja sebanyak-banyaknya. Nanti kalau sudah ada yang cocok, insya Allah serius,” jelas Dina.

Celakanya, selama ini mereka punya selera yang sama. Tak jarang satu pria jadi incaran berdua. “Biasanya kami akan blak-blakan, siapa yang mau maju? Yang pasti, kami ingin mendapat suami yang tidak hanya mengerti dan menerima salah satu dari kami saja, tapi harus satu paket. Kalau sayang dan care sama aku, ya, dia juga harus sayang dan care sama Dita,” kata Dina.[sumber:tabloidnova]

3 Komentar untuk "PROFIL DINA FAISAL DAN DITA FAISAL"

Beruntung banget yang jadi suaminya...:)

Mudah2an jodoh nya sama kaya nama belakangnya "faisal" hehehe...peace :D

Untung banget jadi suami salah satu nya, udah cakep smart lagi love u Dita dan Dina

Back To Top