Miyabi,Sasha Grey, dan Film Indonesia Kiwari

Sasha Grey

Film Indonesia kiwari kian kehilangan kepercayaan diri. Seakan menihilkan keberhasilan "Laskar Pelangi", "Pintu Terlarang", atau "Ada Apa dengan Cinta", untuk menyebut beberapa karya, publik pencinta gambar hidup di tanah air secara bertubi-tubi dijejalkan puluhan film yang mengeksploitasi tubuh dan sensualitas.

Mari simak deretan judul berikut: "Hantu Puncak Datang Bulan", "Pelukan Janda Hantu Gerondong", "Suster Keramas 2", "Pocong Mandi Goyang Pinggul." Mengeja kata-kata itu, bukan salah Anda jika terkenang dekade 1990an, wahai penonton budiman: sebuah masa yang ramai oleh film-film semi-porno. Siapa pernah lupa Taffana Dewi dalam "Gairah Malam", atau Sally Marcellina di "Misteri Janda Kembang"? Nama mereka, bersama judul-judul film lain yang bikin cemas seperti "Akibat Hamil Muda" atau "Pergaulan Ranjang Memikat", nyaris selalu muncul pada iklan bioskop di surat kabar.

Reaksi masyarakat terhadap film-film semacam itu memang tidak selalu tunggal seperti layaknya tabiat film itu sendiri, yang menghendaki munculnya multitafsir. Sebagian orang masih menikmati sebagai tontonan, yakni hiburan di kala senggang demi melenyapkan kejenuhan. Banyak pula yang melontarkan caci-maki sonder bangunan argumen yang masuk akal. Bahkan, mungkin, ada juga kaum yang sudah kadung antipati tanpa pernah menonton.

Namun, kekhawatiran khalayak lebih luas tentang arah perkembangan perfilman nasional sungguh tak bisa ditolak. Sebab, kini kian banyak produser dengan dukungan dana yang baik berupaya mendongkrak keuntungan dengan menyewa aktris porno dari negara lain untuk bermain dalam film garapan mereka.

"Suster Keramas 2" bisa jadi contoh. Diproduksi oleh Maxima Pictures, film itu memberi ruang bagi bintang Japanese Adult Video (JAV), Sora Aoi, untuk menerjemahkan peran bersama artis lokal Tasya Djerly Emor. Selain itu, film terbaru lain yang memakai jasa aktris luar adalah "Pocong Mandi Goyang Pinggul" dengan bintang utama Sasha Grey, gadis kelahiran California 23 tahun lalu. Sasha pernah menjalani karir sebagai pemeran film porno sebelum akhirnya terjun ke dunia model dan film mainstream. Jauh sebelum itu, keterlibatan Tera Patrick dan Miyabi dalam film lokal pun telah membangkitkan banyak komentar dengan nada minor.

Salah satu respon keras ditunjukkan oleh Forum Pembela Islam (FPI) Jakarta. Dipimpin langsung oleh sang ketua, Habib Salim Umar Alatas, organisasi massa itu mendemo rumah produksi K2K Production, pihak yang memayungi "Pocong Mandi".

Di titik lain, Syamsul Lussa melemparkan komentar yang menyayangkan kemunculan film-film berlatar semi-pornografi. "Sayang kalau menonton film tanpa pesan moral," kata Direktur Perfilman pada Direktorat Nilai Budaya Seni dan Film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Meski sebelumnya ia menyatakan bahwa kreativitas tak bisa dikekang, namun film nasional semestinya mampu menggambarkan dengan gilang-gemilang kekayaan budaya Indonesia. Sebab, menurutnya, film-film berlandaskan kekayaan kultural, "akan memperkuat jati diri dan karakter bangsa."

Joko Anwar, sutradara muda berpengaruh Indonesia, segendang sepenarian dengan sang Direktur Perfilman. Menurutnya, salah satu keunggulan film adalah ia bisa jadi, "sarana pendidikan murah bagi masyarakat". Film yang dibuat, dikemas, dan dikelola dengan baik akan memancing kesadaran masyarakat akan suatu wacana. Adapun, film yang menurutnya unggul itu tidak hanya harus memikirkan segi estetis, namun masalah pemasaran.

Ada beberapa masalah dasar, menurut Joko, yang mesti diperhatikan jika ingin memperbaiki perfilman nasional. Ia menyoroti sistem distribusi yang berkarat. Menurutnya, Indonesia tak memiliki jaringan distributor yang solid. Pembuat film dapat menawarkan film langsung kepada pemilik bioskop, "dan biasanya memanfaatkan jaringan personal."

Kemudian, mekanisme pembinaan para pekerja yang nantinya akan menjadi tulang punggung industri perfilman mesti diperbaiki. Keberadaan agen-agen mumpuni tak lagi bisa ditunda demi memperkecil kesenjangan teknis dan estetis. Jumlah sekolah film yang ada, seperti Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Fakultas Film di Bina Nusantara, masih terlalu sedikit. Yang terakhir, lemahnya budaya menonton film di bioskop serta tak jitunya strategi pemasaran patut pula dipersalahkan.

Menilik pemaparannya, perfilman Indonesia kiranya masih harus menempuh jalan lebih menantang agar lebih kuat menjadi sebuah industri yang matang. Jika meminjam perkataan Umar Kayam di akhir 1970an, "Film harus menjadi produk kemauan teguh dan berencana dari suatu kewiraswastaan yang berani berkarya dengan risiko.|vivanews|
Tag : SHOWBIZ
1 Komentar untuk "Miyabi,Sasha Grey, dan Film Indonesia Kiwari"

mantap gan ditunggu gebrakannya lagi

Back To Top