PROFIL FRANSOA


Dunia maya adalah jalan pintas seseorang untuk meraih popularitas. Salah satunya Fransoa, pria Prancis yang mendadak ngetop lewat video klip Kalau Saya Kaya di situs Youtube. Dengan rambut pirang dan gaya glamornya, ia berharap jadi penyanyi terkenal di negeri orang.

Kalau saya kaya, aduh aduh aduh...

Mau beli mobil satu mobil baru,

Pake roda besar tempat duduk kuliiit,

Saya antar bapak, ibu, nenek sama ade,

Aduuh… Senang sekali.

Itu lah sepenggal lirik menggelitik dari lagu Kalau Saya Kaya milik Fransoa (30), pria kebangsaan Prancis yang tiga tahun belakangan menetap di Indonesia. Sebelumnya, pemilik nama asli Francois ini bekerja sebagai desainer perhiasan di Prancis.

Tak pernah terpikir olehnya untuk meninggalkan tanah airnya. Namun, setelah menikah, Fransoa justru penasaran dengan cerita tentang Indonesia, yang semula hanya ia dengar dari istrinya. Sang istri, Carolina, memang terikat kontrak bekerja di Bali dan sering bolak-balik Prancis-Bali tiga bulan sekali. Baru pada 2007 mereka memutuskan hijrah dan menetap di Bali bersama kedua buah hati mereka.

Selain menjadi desainer perhiasan, Fransoa juga berbisnis. Ia meneruskan usahanya dengan membuka sebuah butik perhiasan di daerah Seminyak, Bali. Bersama istrinya, ia mengusung merek Kmo Jewel, yang memproduksi berbagai jenis perhiasan.

Setelah berlangsung empat tahun dan memiliki 20 karyawan orang Indonesia, ia menjadi konsultan perhiasan untuk label Sophie Paris dan bersahabat dengan Bruno Hasson, pemilik Sophie Martin Indonesia.

Bule Asli

Ayah dua anak ini memang telah lama memendam obsesi menjadi artis. Tapi semua itu hanya dijadikan guyon untuk menyalurkan hobinya bernyanyi. Siapa sangka, dari niat isengnya justru jadi serius, Fransoa dan Carolina yang hobi karaoke ini lalu coba-coba mengarang lagu menggunakan lirik Bahasa Indonesia.

Semua diawali ketika mereka sedang karaoke bersama sang teman, Bruno Hasson, di Jakarta. Fransoa iseng menyanyikan lagu Kucing Garong yang kala itu dibawakan Trio Macan. Terus terngiang lagu tadi, lama-lama ia bersenandung sambil mencampurnya dengan melodi lagu-lagu disko tahun 60-an yang digemarinya.

Kebetulan, ketika pulang ke Bali, mereka berkenalan dengan seorang pemilik studio rekaman. Tak mau buang kesempatan, Carolina berinisiatif menuangkan melodi yang digumamkan sang suami ke dalam lirik yang dibuatnya.

Tercipta lah lagu pertama, Kalau Saya Kaya . Gayung bersambut, saat seorang teman dari Prancis datang berkunjung. Akhirnya, dari lagu tadi dibuatlah sebuah video klip berdurasi 3 menit 15 detik.

Video Jenaka

Bukan tanpa sebab, video klipnya dibuat heboh dan memancing tawa yang menonton. Dengan perawakan bule dan aksen bicara yang khas, Fransoa menyanyi dalam Bahasa Indonesia, sambil diiringi empat penari latar. Belum lagi, di video ini ia digambarkan sebagai orang kaya bergelimang harta yang punya kelakuan norak.

Fransoa mengaku sudah memikirkan ide video ini sejak dua tahun lalu, namun baru dibuat bulan Agustus 2010. “Proses pembuatannya hanya satu setengah hari, karena semua sudah disiapkan. Semua orang yang ada di video klip adalah teman-teman di Bali yang sudah lama saya kenal,” cerita Fransoa yang juga ikut menyiapkan kostum, perhiasan hingga pemilihan lokasi.

Kepalang tanggung, video klip itu ia unggah di situs Youtube pada akhir September lalu. Tujuannya hanya satu, ingin tahu reaksi orang yang melihatnya menyanyi. Tak disangka, dua minggu setelahnya ia dihubungi banyak media yang penasaran dengan aksinya. Bahkan cuplikan video klipnya sempat muncul di beberapa program televisi.

Walau terkesan matang menyiapkan diri menjadi artis, Fransoa masih merasa kaget karena baginya semua berlangsung terlalu cepat dan diluar dugaan. Ditambah lagi, ia belum mengerti benar Bahasa Indonesia dan masih sibuk dengan bisnis perhiasannya. Mau tak mau kursus bahasa ia lakoni agar makin mudah berkomunikasi dengan semua orang.

Hingga kini, sekitar 212 ribu orang telah melihat video klip Kalau Saya Kaya di Youtube. Bahkan, lagunya sudah dapat dijadikan ring back tone telepon selular. Namun, meski videonya terkesan komedi dan main-main, ternyata ada makna dibalik lagu itu.

Menurut Fransoa, setiap orang pasti ingin jadi kaya dan punya banyak uang, tapi kebanyakan tidak mau susah. Padahal hidup enak seperti itu hanya bisa diperoleh dari kerja keras dan ditambah keberuntungan.

Bicara mengenai lirik dalam lagu-lagunya, ia mengaku, peran istrinya sangat besar dalam membuat lirik sederhana yang mudah diingat. Selain itu, tema lagunya juga dekat dengan keseharian. “Semua orang bisa merasakannya lewat lagu kami. Sejujurnya, lagu itu menggambarkan perasaan nyaman saya bergaul dengan semua orang tanpa batasan.”



Mini Album


Sudah 6 tahun Fransoa memperhatikan perkembangan musik di Indonesia. Tapi, hanya musik dangdut yang membuatnya langsung jatuh hati. Beberapa penyanyi dangdut seperti Tiga Macan, Alam, Anissa Bahar dan Inul Daratista pun jadi favoritnya. Bahkan, hingga kini ia masih mencari CD album Alam yang menelurkan hits Mbah Dukun .

Dua tahun belakangan, Fransoa lebih intens menyimak musik dangdut untuk menambah referensinya, sekaligus berharap bisa berduet dengan Tiga Macan atau Anissa Bahar. Lucunya, lima tahun yang lalu ia mengaku pernah satu panggung dengan Anissa Bahar ketika pemilik goyang patah-patah itu pentas di Tabanan, Bali.

“Waktu ditanya siapa yang mau naik ke panggung, ya sudah saya naik dan joget sama dia. Itu pertama kali tahu Anissa Bahar.”

Bulan Mei 2011 nanti, Fransoa akan merilis mini album yang berisikan lima lagu. Serius meniti karir keartisan, kini ia bergabung dalam manajemen Pulau Biru Production milik Slank. Tampaknya, sifat humoris tak luput dari idenya memberi judul di mini album, “Nanti (judul albumnya) Nakal-Nakal , karena ada lagu yang berjudul sama juga. Tapi kalau nama goyangnya, saya namakan ‘goyang nakal-nakal’,” ungkap Fransoa sambil tertawa.

Dibantu Istri

Perlahan tapi pasti, tawaran menyanyi dan wawancara media mulai berdatangan, sehingga membuat Fransoa harus bolak-balik Jakarta-Bali. Setidaknya, perbedaan juga ia rasakan ketika pulang ke Prancis untuk memperpanjang permohonan visa. Jika dulu tujuannya untuk bekerja, kini embel-embel artis pun jadi bagian dari kunjungannya ke Indonesia.

Namun, dengan segala konsekuensi yang ada, ia masih merasa sulit memilih antara berbisnis dan menjadi artis karena ingin keduanya berjalan baik. “Jika sudah terkenal, harus pintar bagi waktu untuk kerja dan show , tapi semua dibantu dan diatur oleh istri saya. Mungkin, dia akan mengatasi main business saya di Bali,” cerita Fransoa yang akan kembali ke Prancis hanya untuk Natal dan liburan sekolah kedua anaknya.

Jauh di lubuk hatinya, ia juga merasa berat jika harus meninggalkan keluarga demi show menyanyi di Jakarta. Ingin menjalani semuanya secara perlahan dan seimbang, itulah alasannya kenapa ia hanya ingin membuat mini album.

“Semua ini lebih karena keberuntungan, saya bisa terkenal dalam waktu cepat. Tapi tidak mau semuanya berubah terlalu drastis. Saya sudah pikirkan kalau ada tawaran show , tapi keluarga juga penting.”

Dengan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang kini bersekolah di Bali, Fransoa sangat mencintai keluarga kecilnya. Saat muncul di televisi, beragam reaksi diperlihatkan anaknya. Si sulung pernah meniru gaya sang ayah menyanyi, tapi si bungsu justru cuek dan lebih suka menggambar. “Padahal waktu saya ke sekolah mereka, teman-temannya berteriak, ‘Hey, Papa kamu ada di teve!’ Ha ha ha...”

Sumber
0 Komentar untuk "PROFIL FRANSOA"

Back To Top